Belajar Cara Daring Bukan Hanya Sekedar Nonton dan Baca
| 8 min read

Belajar Cara Daring Bukan Hanya Sekedar Nonton dan Baca

Pandemik Covid-19 telah memaksa jutaan peserta didik harus belajar di rumah dan sementara itu banyak pendidiknya tiba-tiba jadi “gagap mengajar” karena harus mengubah cara mengajar secara drastis dari tatap muka menjadi cara daring secara tiba- tiba. Tidak ada kejelasan tentang kapan persoalan pendemik Covid-19 dapat berakhir oleh karena itu sangatlah penting untuk membekali para pendidik dengan pedagogi yang terkait erat dengan pemanfaatan teknologi.

Sesungguhnya pembelajaran cara daring bukanlah hal yang sangat baru, sudah terdapat teori-teori pendidikan dan penelitian yang berkaitan dengan belajar jarak jauh sehingga seharusnya belajar cara daring bukan sekedar sebuah proses “digitalisasi” bahan ajar, yaitu mengubah bahan ajar hanya jadi bahan bacaan atau tontonan secara digital. Prof George Siemens, seorang guru besar dari Athabasca University di Kanada merupakan salah seorang pelopor pengembangan pedagogi untuk pembelajaran yang memanfaatkan teknologi. Ia mengusulkan sebuah teori alternatif untuk pendidikan yaitu Connectivism. Ini adalah sebuah teori pendidikan yang memasukkan teknologi dan konektivitas sebagai bagian dari kegiatan belajar yang penting.

Siemens (2005) menyatakan bahwa Connectivism dikembangkan sebagai respons terhadap tren dan kebutuhan abad ke-21, ini terkait dengan kemajuan teknologi dan makin pentingnya peran jaringan (network) yang terjadi akibat perkembangan teknologi. Siemens (2005) menyimpulkan bahwa behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme, tiga teori pembelajaran utama yang paling sering digunakan tidak dapat mengakomodasi semua dampak kemajuan teknologi karena teori-teori tersebut dikembangkan pada saat teknologi belum memiliki pengaruh terhadap pengalaman belajar peserta didik sebanyak hari ini.

Downes (2012) menyatakan bahwa inti dari Connectivism, “adalah tesis bahwa pengetahuan didistribusikan melalui jaringan dan oleh karena itu pembelajaran terdiri dari kemampuan untuk membangun dan melintasi jaringan tersebut.”

Teori baru ini menuntut perubahan peran peserta didik dan guru. Peserta didik tidak dapat hanya diam dan bertindak secara pasif, tetapi mereka harus mengambil peran yang lebih besar yaitu terlibat dan ikut serta menjadi seorang kontributor pengetahuan.

Peran guru dalam konsepsi Connectivism tidak hanya sebagai penyedia dan pendistribusi pengetahuan belaka; melainkan, mereka memiliki peran yang lebih besar yaitu sebagai Master Artist, Kurator, Administrator Jaringan dan “Concierge” untuk peserta didik (Siemens, 2008).

Ke empat peran guru ini merupakan sebuah konsepsi unik dari teori Connectivism. Sebutan Master Artist dikaitkan dengan peran yang biasa dilakukan oleh seorang pengajar seni atau desain di studio. Situasi studio memungkinkan setiap peserta belajar untuk saling melihat karya satu sama lain dan juga memungkinkan untuk mendengar apa yang dikatakan oleh “Master Artist” sebagai pengajar ketika memberikan komentar terhadap karya salah seorang peserta belajar. Situasi mirip seperti ini terjadi ketika pendidik memanfaatkan teknologi di dalam mengajar. Guru dapat menjadi seorang “master artist” yang membuat seiap peserta didik dapat belajar bersama dan belajar dari satu sama lain dengan cara memanfaatkan sebuah platform LMS (Learning Management System).

Platform LMS seakan jadi sebuah studio yang memungkinkan bagi sang guru untuk “berjalan-jalan” mengunjungi setiap peserta didik sementara peserta didik yang lain dapat “menguping” dan ikut belajar dari setiap diskusi yang terjadi antara sang guru dan peserta didik. Pemanfaatan LMS juga membuat pendidik bukan lagi satu-satunya sumber belajar tapi peserta belajarpun bisa jadi sumber belajar. Ketika sang guru mendorong setiap peserta didik untuk mencari bahan-bahan referensi mereka sendiri lalu diunggah di LMS maka sumber belajarpun jadi makin melimpah.

Peran pendidik yang kedua adalah sebagai kurator, sang guru dapat mengumpulkan, memilah dan memilih sumber-sumber belajar yang ia pandang akan berguna dan melengkapi pengetahuan peserta belajar. Ia dapat mengeksplorasi bahan ajar dalam bentuk teks, gambar maupun video dari Internet, karya peserta didik tahun sebelumnya atau video yang merupakan hasil rekaman ia sendiri dan banyak lagi. Dengan hadirnya sumber-sumber belajar yang sudah terkurasi maka peserta belajar dapat bertemu dengan sumber-sumber pengetahuan yang bukan saja sesuai tapi sungguh bermutu karena melalui proses kurasi terlebih dahulu.

Melalui kurasi guru dan teknologi sebuah “perpustakaan sekolah” dapat dihadirkan di setiap ponsel cerdas atau laptop peserta didik. Peran yang ketiga adalah sebagai “Administrator Jaringan”. Peran ini meletakkan guru sebagai desainer dan pengelola jejaring yang akan menfasilitasi peserta belajar untuk mengalami pengalaman belajar yang maksimal. Guru mengumpulkan, memilah dan memilih sumber-sumber belajar dan kemudian menciptakan serangkaian “konektivitas” untuk peserta didik sehingga mereka dapat “berselancar” melalui jaringan tersebut dan bertemu dengan sumber-sumber belajar yang pada akhirnya membawa mereka pada pengetahuan yang dituju. Gurulah yang mengadministrasi “jaringan-jaringan” belajar tersebut.

Peran ini menuntut kemampuan guru untuk paham bahan ajar, paham pedagogi, paham teknologi dan juga paham fitur-fitur yang ada di dalam sebuah LMS sehingga pengalaman belajar melalui teknologi jadi sebuah pengalaman belajar yang bermutu dan juga asyik untuk peserta didik. Peran yang terakhir adalah peran pendidik sebagai “Concierge”, ini memberikan arti bahwa guru memiliki peran sebagai “help desk” untuk peserta didik apabila mereka mengalami kesulitan, “tidak tahu arah” atau “tersesat” dalam proses belajar melalui teknologi. Kesimpulan yang dapat kita tarik adalah terdapat banyak peluang untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermutu melalui pembelajaran daring namun untuk itu kita harus bisa memiliki para pendidik yang siap dalam memanfaatkan pedagogi era teknologi dan juga siap dalam memanfaatkan teknologi untuk kepentingan peserta didik.